Showing posts with label Tourism. Show all posts
Showing posts with label Tourism. Show all posts

Monday, July 9, 2012

International Open Barista Championship 2012 - Kejuaraan Barista



International Open Barista Championship 2012 (IOBC) sudah selesai digelar di Ciwalk Bandung dengan dukungan penuh dari Morning Glory Coffee. Pemenangnya akan segera diumumkan di website resminya disini dan akan mendapatkan kesempatan untuk berkunjung ke Italia.  Ini saatnya Barista yang terpilih untuk bertandang ke Tuscany dan Florence, termasuk ke pabrik salah satu pembuat Coffee Machine terkenal dunia :  La Marzocco

Menjadi juri di kejuaraan Barista semacam ini, apalagi bertaraf internasional merupakan kebanggaan tersendiri. Setelah sekian lama mencintai kopi, saya berkesempatan menjuri Barista (Sensory Judge) untuk sebuah kejuaraan. Hanya saja, masih terdapat beberapa kesalahan mendasar yang diperlihatkan oleh para Barista kita pada saaat kejuaraan. Oleh karena itu, saya pikir, perlu ada penjelasan mendasar mengenai bagaimana sebuah kejuaraan Barista dan jenis kopi yang dinilai. 

Dalam kejuaraan Barista ada 3 jenis Juri : Head Judge (1 orang), Technical Judge (2 orang) dan Sensory Judge (4 orang). Gampangnya gini, tugas Head Judge tentu saja memimpin penjurian; Technical Judge lebih fokus kepada hal-hal teknis, seperti waktu brewing, waist, dll; sedangkan Sensory Judge akan menilai mengenai komposisi warna, rasa dari produk yang dipresentasikan.

Sunday, June 24, 2012

Wisata Pontianak | Potensi Yang Tidak Muncul




Wisata Pontianak seharusnya bisa berkembang dengan pesat, sayangnya justru terkesan tidak ditata dan terurus. Dalam beberapa bulan terakhir saya seringkali bolak-balik ke Pontianak, dikarenakan ada salah satu hotel terbesar disana yang saya konsultani beserta dengan teman-teman. Dalam perjalanannya, beberapa kali juga saya berkesempatan berkeliling Ibukota Kalimantan Barat ini dengan dibantu oleh supir hotel atau bahkan oleh teman yang kebetulan berada disana.

Kendala terbesar untuk wisatawan yang datang ke kota ini adalah susahnya sarana transportasi. Ada taksi (mobilnya daihatsu ceria) yang jumlahnya tidak banyak dan konon, meminta harga yang mahal dan tidak mempunyai standar. Misalnya kita dari titik A ke B dengan harga X, ketika baliknya dari B ke A maka akan keluar harga Y. Agak aneh sebetulnya ketika sebuah ibukota provinsi tidak mempunyai taksi yang memadai. Jadi bagi yang ke Pontianak sendirian, atau bersama keluarga, siap-siap untuk sewa mobil saja. Atau saran yang paling logis adalah dengan memakai mobil hotel. Tentu saja dengan harga yang lumayan.

Beruntung saya ada Mas Eddy Setyawan, kakak kelas saya semasa SMA yang selalu berbaik hati mengantarkan saya melihat-lihat Kota Pontianak. Setelah 2 bulan bolak balik, baru beberapa hari terakhir ini saya berkesempatan diajak berkeliling oleh Mas Eddy.

Pontinak sungguh sangat eksotis di malam hari. Saya diajak makan di atas kapal yang berkeliling di Sungai Kapuas. Suasananya sungguh sangat mirip dengan Palembang. Hanya saja, Palembang berkembang pesat wisata sungainya; di Pontianak terkesan sangat seadanya. Kapal yang membawa kami pun sangat sederhana, beberapa rombongan berada di bawah. Sepertinya turis domestik juga.

Ikon terbesar di Pontianak adalah Tugu Khatulistiwa. I tell you what, sekarang tugu ini terkesan sangat tidak terurus. Saya menulis ini di 24 Juni 2012 dan saya ke Tugu Khatulistwa sekitar 3 bulan yang lalu. Konon hanya ada 2 dunia, Pontianak dan Brasil, Tugu Khatulistiwa ini menandakan titik kulminasi matahari. Di saat-saat tertentu, ketika kita berdiri di titik ini, bayangan matahari tidak terlihat karena tepat dibawah badan kita. Saya yakin kita sering mendengar tentang ini pada saat dulu SD :)

Entah apa yang mendasari Pemerintah Propinsi Kalbar tidak serius menggarap potenti wisatanya. Padahal, potensi wisatawan terbesar adalah dari Kuching dan Brunei yang terbilang dekat dengan kota ini. Mudah-mudahan saya salah, tetapi pada siang hari, kota yang penuh ruko ini tidak begitu menggeliat. Tetapi ketika matahari mulai temaram, baru terasa eksotisme kota ini. 

Rupanya warga Kota Pontianak sangat menyukai dine out (makan di luar). Setelah jam 5 sore, banyak sekali warung-warung kopi di pinggir jalan yang penuh dengan tamu. Saking penuhnya, parkir motor di beberapa ruas jalan, seperti jalan Gajahmada, separonya penuh dengan motor. Mereka nongkrog di warung kopi di pinggir jalan. Rata-rata setiap warung kopi ini disediakan juga wifi sehingga banyak muda mudi yang membuka laptop dan bermain facebook atau sekedar browsing internet.

Ketiadaan obyek wisata sedikit tertutupi dengan ragam wisata kuliner yang tiada dua. Banyak restran pinggir jalan yang menyajikan banyak makanan yang rasanya mantab. Saya sempat mencicipi Tomyam di samping Jembatan Kapuas (lupa nama restorannya) yang rasanya khas, ayam goreng Suib, kemudian makan gepuk Sotong (saya lupa juga nama makanannya), dan juga Warung nasi Mak Etek yang menyediakan ikan tenggiri dan ikan merah bakar beserta dengan telur ikannya. Sedapp.

Kota Pontianak sungguh berada pada jalur yang tidak sebenarnya, terutama dari sisi pariwisatanya. Seharusnya bisa berkembang dengan sangat pesat. Saya mengimpikan datang ke Kota ini dan Kota Singkawang pada saat Tahun Baru China, katanya saat itu kota ini berubah menjadi sangat menarik. Mudah-mudahan diberikan waktu untuk eksplorasi lebih banyak lagi dimasa datang. 

Monday, October 31, 2011

Pariwisata dan Ekonomi Kreatif : Where to Go?


Gagasan SBY untuk menggabungkan pariwisata dan ekonomi kreatif mempunyai banyak pembenaran. Kabinet Indonesia Bersatu II resuffle memang menuai kontroversi karena begitu banyaknya posisi wakil menteri. Khusus buat Kementrian Pariwisata, keputusan strategis untuk memindahkan Kebudayaan ke Kementrian Pendidikan Nasional berdampak kepada titik fokus dan konsentrasi. 

Gerbong Pariwisata memang terlalu berat apabila disinggahi oleh Kebudayaan. Secara prinsip bisa, tetapi secara implementasi sulit dilaksanakan. Garis singgung Kebudayaan dan Pariwisata, secara keilmuan, ada di outer ring. Kebudayaan sebagai value of life tidak bisa diselaraskan secara langsung kepada Pariwisata, tetapi Kebudayaan sebagai Seni lebih memungkinkan. Perbedaan pandangan ini telah terjadi bertahun-tahun, menimbulkan dampak sistemik negattif pada pengelolaan yang berdomain Pariwisata. Saling silang, senggol dan sindir menyertai duo Kebudayaan (baca: budayawan} dan Pariwisata.

Nah, secara implisit, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bisa bernasip sama. Pertemua keduanya juga di ujung, bukan di proses ataupun di inner ring. Perbedaan terbesar adalah bahwa sekarang terdapat posisi Wamen. Peran wakil menteri ini yang akan menentukan. Beruntuk Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mempunyai wakil menteri yang cerdas dan berhaluan Pariwisata yang kuat. Fokus, konsentrasi dan akurasi diharapkan tetap terjaga.

Tuesday, January 4, 2011

Eat, Pray and Tourism



Masih ingat film yang dibintangi oleh Julia Robert : Eat, Pray and Love (2009)? Mengisahkan seorang wanita yang mencari jatidiri dan cintanya dengan mengunjungi berbagai tempat dan akhirnya terpikat oleh Bali.  Pesan yang terkandung di dalamnya sangat clear : bahwa manusia akan terus bergerak dinamis untuk mencari tahu siapa dirinya, dan apa yang membuatnya bahagia.

‘Hip’ dari social media yang saya tulis sebelumnya mengukuhkan perjalanan spiritual seorang manusia. Ketika kita saling berhubungan dengan yang lainnya hanya dengan satu ‘klik’, maka koneksitas pertukaran pikiran, budaya dan knowledge terjadi begitu saja. Upscaling mind, body and soul menjadi habit. Manusia pada akhirnya akan kembali kepada dirinya sendiri.

Kondisi di atas menggejala di dunia. Pembengkakan konsep postmodernisme, anti kapitalis dan social-oriented person menggelembung dengan pesat. Globalisasi mendapatkan lawan dengan localism. Perubahan konteks ini mempengaruhi pola konsumsi wisatawan dunia secara langsung.

Dari semua prediksi untuk tahun 2011, JWT Intellegence (2010) memuat beberapa trend untuk 2011 yang harus mendapatkan perhatian khusus, antara lain : nanobrewer (kecenderungan traveler untuk menikmati local home-made beer), space travel, culinary calling card, dll. Secara khusus, laporan ini menyebutkan bahwa kulinari masih akan menjadi bagian pariwisata dunia. Tahun 2011, akan memunculkan profesi baru, yaitu Beer Somelier (wow!) karena bertambahnya apresiasi konsumen terhadap minuman jenis ini. Majalah Food & Wine bahkan sudah memilih satu Beer Expert diantara tujuh Somellier of the Year. FYI, nama keren dari Beer Somelier adalah “Cicerone”. Hmmm..tertarik? ikuti sertifikasinya di : http://www.cicerone.org

Wednesday, December 29, 2010

2011 - Tahun Sosial Media


Mark Zuckerberg, pendiri Facebook, menjadi Person of The Year majalah Time. Salah satu alasan penunjukkannya adalah karena Mark telah berhasil mengubah cara pandang dan cara koneksi penduduk dunia. In fact, Facebook sekarang sudah menjadi salah satu negara terbesar di dunia dengan 500 penduduk.

Hal paling mendasar yang menjadikan social media menjadi begitu berpengaruh pada saat ini adalah perubahan preferensi dan perilaku kita, ya kita ini, yang saat ini sudah mulai menanyakan hal sepele ke follower di Twitter (misalnya : mie ayam enak dimana ya?) atau ke friends kita di Facebook. Secara real time, jawaban akan mengalir dan memberikan kita banyak opsi untuk bergerak.

Jadi, social media menguntungkan kita, ya kita ini, yang secara harfiah adalah konsumen. Preferensi kita berubah serta merta dengan berbagai rekomendasi yang diberikan oleh teman-teman dekat yang masuk dalam lingkaran dalam kita. Pun perubahan ini juga terjadi dalam pola konsumsi wisatawan dunia.

Studi yang dilakukan oleh Cornell University (2010) menegaskan bahwa review di Facebook, Twitter dan Blogs menempati peringkat ketiga sebagai bahan referensi yang dapat dipercaya untuk mereservasi hotel, dibawah AAA dan TripAdvisor.  Sedangkan Forbes Travel Guide di posisi ke empat. Secara khusus, wisatawan leisure juga menyebutkan Meta-Search Websites seperti Expedia, Priceline dan Kayak sebagai referensi.

Friday, June 25, 2010

Pengalaman di Pulau Peucang Ujung Kulon


Beberapa hari yang lalu saya berkesempatan untuk mengunjungi Pulau Peucang. Sebuah pulau yang merupakan bagian dari Kawasan Konservasi Taman Nasional Ujung Kulon. Kawasan konservasi di Provinsi Banten seluruhnya berjumlah 126.397,30 Ha, dimana 81.340,30 Ha merupakan kawasan hutan konservasi daratan dan 45.057 Ha merupakan kawasan konservasi laut. Kawasan konservasi berupa Taman Nasional, terdiri atas Taman Nasional Ujung Kulon dan Taman Nasional Gunung Halimun Salak, Cagar Alam dan Taman Wisata Alam.

Taman Nasional Ujung Kulon seluas 122.956 Ha yang berupa kawasan hutan (daratan) seluas 78.619 Ha dan sisanya seluas 44.337 Ha merupakan kawasan konservasi perairan laut. Taman Nasional Ujung Kulon merupakan habitat alami satwa endemik Badak Bercula Satu (Rhinoceros sundaicus). Kawasan ini menjadi Natural World Heritage Site pertama di Indonesia.

Monday, June 14, 2010

Pariwisata dan Piala Dunia 2010


Sedikit yang tau bahwa Indonesia ternyata pernah mengikuti Piala Dunia tahun 1938 di Perancis. Meski saat itu belum merdeka, Indonesia mengusung nama Nederlandsche Indiesche atau Netherland East Indies atau Hindia Belanda. Para pemainnya adalah orang Indonesia yang bekerja di Eropa. Susunannya pelatih : Johannes Mastenbroek, pemainnya Bing Mo Heng (kiper), Herman Zommers, Franz Meeng, Isaac Pattiwael, Frans Pede Hukom, Hans Taihattu, Pan Hong Tjien, Jack Sammuels, Suwarte Soedermandji, Anwar Sutan dan Nawir (kapten).

Tanggal 5 Juni 1938, pukul 17.00 waktu setempat, pertandingan pertama antara Hongaria dan Hindia-Belanda. Pertandingan berlangsung di Vélodrome Municipal di kota Reims, 129 km dari Paris, dihadiri oleh sekitar 9000 penonton dan wartawan dari 27 negara berbeda. Hindia Belanda kalah 6-0 dari Hongaria.

Sudah lama olahraga selalu dihubungkan dengan pariwisata. Selain inflow olahragawan dan official, pendukung dari cabang olahraga yang ada juga memberikan masukan yang berarti bagi devisa negara. Ibaratnya adalah : event olahraga akan mem-boost jumlah wisatawan yang datang. Sebetulnya bukan hanya itu.

Sunday, May 16, 2010

Wawancara dengan Prof. Geoffrey Crouch

 

Salah satu pembicaraan yang menarik adalah ketika Prof Geoffrey Crouch dari La Trobe University Melbourne Australia berbincang mengenai keadaan pariwisata dunia saat ini. Wawancara ini dilaksanakan sebelum presentasi menariknya mengenai Tourism Customer Choice Modelling yang memberikan contoh pada Space Tourism pada Asia Tourism Forum 2012 di Hualien Taiwan.

Prof Crouch, sebelum di La Trobe University, berkarir di the World Tourism Education and Research Centre di University of Calgary, Canada, dan the Graduate School of Management at Monash University, Australia. Beberapa penghargaan yang pernah diterimanya adalah the 1997 Dean's Award for Outstanding Research Achievement di the University of Calgary, the 1994 Best Article Award for the Journal of Travel Research, dan the 1993 Best Paper Designation pada saat the 48th Annual Conference of the Council for Hotel, Restaurant and Institutional Education (CHRIE). Selain banyak artikelnya yang diterbitkan oleh jurnal Tourism Analysis, Journal of Travel Research, Tourism Management dan Annals of Tourism Research, Prof Crouch adalah co-author dari buku The Competitive Destination: A Sustainable Tourism Perspective.

Berikut adalah petikan wawancara dengan Prof Geoffrey Crouch :

Friday, May 14, 2010

STP Bandung Menjadi Tuan Rumah Asia Tourism Forum 2012



Dalam gambar : Delegasi dari STP Bandung (Tatang Rukhiyat, Jacob Ganef Pah dan Wientor Rah Mada) bergambar bersama Prof Kaye Chon dari PolyU University Hong Kong and Prof Ming Huei Lee dari Taiwan Hospitality and Tourism College.

Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung (dahulu : NHI) terpilih menjadi host Asia Tourism Forum 2012. Board of ATF, event yang berlangsung dua tahunan ini secara resmi akan dilaksanakan di Bandung pada bulan May 2012. Acara ini akan menjadi salah satu highlight dalam perayaan 50 tahun Sekolah Tinggi Parwiisata (STP Bandung) yang rencananya akan berlangsung sepanjang tahun 2012.

ATF 2012 diperkirakan akan dihadiri oleh 300-400 akademisi, peneliti dan praktisi dari seluruh dunia.

Asian Tourism Forum (ATF) merupakan ajang bergengsi tempat bertemunya institusi pendidikan pariwisata, pemerintah dan para pembuat kebijakan tentang kepariwisataan di negara-negara Asia. Hal itu dikatakan Pembantu Ketua Bagian Kemitraan dan Pengawasan Kualitas Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Bandung, Tatang Rukhiyat di Bandung, Kamis. Penetapan STP Bandung menjadi tuan rumah ATF ke-10 tahun 2010 itu dilakukan oleh para peserta ATP ke-9 di Kota Hualien Taiwan. ATF merupakan pertemuan kepariwisataan dua tahunan, selain negara-negara Asia juga diikuti Australia, Belgia, Belanda dan beberapa negara lainnya.

Dalam pertemuan itu dibahas tentang perkembangan kepariwisataan, pendidikan kepariwisataan serta dampak ekonomi dari pariwisata."Sebagai tuan rumah ATF, Jawa Barat, mendapat keuntungan secara ekonomis maupun akademis. Forum ini menjadi ajang promosi wisata yang efektif." kata Tatang.

Selamat kepada STP Bandung, nantikan beritanya di : www.atf2012.com.
See you all in 2012!!

Bersama Prof Chris Ryan


Prof Chris Ryan adalah Professor Hospitality dan Tourism di Universitas Waikato Selandia Baru sejak tahun 1998. Sebelumnya adalah Profesor bidang Pariwisata di Universitas Northern Territory. Dia adalah editor jurnal 'Tourism Management' dan telah menulis lebih dari 100 artikel jurnal akademik, buku dan makalah konferensi.

Chris Ryan juga adalah Profesor Hononary dari University of Wales dan visiting professor di Center of Hospitality and Tourism University of Wales Institute Cardiff secara tahunan. Ia tertarik pada metode penelitian dan epistemologi, dan dalam perilaku wisata dan konsekuensi dari perilaku-perilaku dalam hal dampak - sosial, psikologis dan lingkungan, dan dalam organisasi bisnis yang membentuk pengalaman-pengalaman wisata. latar belakang ilmu sosial-nya adalah di bidang ekonomi dan psikologi memiliki sebelumnya menimba ilmu di dari London, Nottingham, Nottingham Trent dan Universitas Aston.

Salah satu buku milestonenya adalah Recreational Tourism : Demand & Impact telah diterbitkan dalam dua edisi yang membahas banyak mengenai betapa pentingnya tourism experience bagi wisatawan yang datang dengan ekspektasi. Dalam Asia Tourism Forum 2010, Prof Chris Ryan mengemukakan bahwa duplikasi kota di dunia sekarang ini (yang terjadi karena perkembagan teknologi) menuntut konservasi atraksi yang autentik dari kota. Keautentisitasan kota bisa didapat tidak hanya dari budaya, tetapi kepada karakteristik kota dan penduduknya.

Saya langsung teringat ke Ubud, Bali. Kota kecil yang luar biasa ini menyimpan autentisitas yang original. Sebagai lokasi yang banyak dikunjungi wisatawan, Ubud tidak termakan oleh waktu dan teknologi. Justru semakin banyak pengunjung Ubud yang mengikuti aroma dan langkah Ubud dalam berpikir dan bekerja. Festival Ubud, Bali Spirit dan Bali Writer's Festival adalah event dunia yang didahului tingkat originalitas yang unggul. Two tumbs up!

Saturday, May 8, 2010

ATF 2010 Dibuka Secara Resmi


 

 Asia Tourism Forum 2010 (ATF) secara resmi dibuka oleh Prof Kaye Chon dari Hongkong Polytechnic University di Promised Land Resort Hualien Taiwan. Sebagai founder forum ini, Prof Chon bercerita dalam speechnya bahwa forum ini didirikan dari hasil pembicaraan beberapa pakar pariwisata dunia di D'angers University Paris yang akhirnya memutuskan ATF pertama kali diadakan di Vietnam. Dari awal ATF dahulu, yang dimulai dengan 30 orang, saat ini ATF sudah menjadi icon perkembangan pariwisata Asia. Hari ini terdapat lebih dari 250 peserta konferensi dari 17 negara hadir untuk ATF 2010 yang di-host oleh Taiwan Hospitality & Tourism College.

Selain Prof Kaye Chon, keynote speaker yang lain, Prof Chris Ryan dari Waikato University New Zealand menerangkan bahwa pariwisata dunia sudah berubah banyak akhir-akhir ini. Prof Ryan menjelaskan dengan gamblang bahwa environmental degradation (dia tidak mau memakai kalimat : climate change) adalah enabler pariwisata terbesar saat ini. Dia juga menyebutkan bahwa saat ini, dengan berkembangnya teknologi, terjadi 'duplikasi kota' dimana mana. Oleh karena itu, 'local value' adalah benteng keunikan sebuah kota yang harus dipertahankan.

Wednesday, May 5, 2010

Bulan Maret 2010 Wisman Naik 16,22%

BPS : Jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang datang ke Indonesia pada Maret 2010 mencapai 594,2 ribu orang atau naik 16,22 persen dibanding jumlah wisman Maret 2009 yang sebanyak 511,3 ribu orang. Begitu pula jika dibandingkan dengan Februari 2010, jumlah wisman Maret 2010 naik 13,59 persen.

Jumlah wisman ke Bali melalui Bandara Ngurah Rai pada Maret 2010 naik 13,74 persen dibanding Maret 2009. Jika dibanding Februari 2010, jumlah wisman ke Bali mengalami penurunan sebesar 0,12 persen, yaitu dari 191,4 ribu orang menjadi 191,1 ribu orang pada Maret 2010. Secara kumulatif (Januari-Maret) 2010, jumlah wisman mencapai 1,61 juta orang atau naik 14,59 persen dibanding jumlah wisman pada periode yang sama tahun 2009 sebanyak 1,41 juta orang.

Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang di 17 provinsi pada Maret 2010 mencapai rata-rata 50,04 persen, atau naik 2,73 poin dibanding TPK Maret 2009 sebesar 47,31 persen. Demikian juga, dibanding TPK hotel Februari 2010, TPK hotel berbintang pada Maret 2010 naik 2,89 poin. Rata-rata lama menginap tamu asing dan Indonesia pada hotel berbintang di 17 provinsi selama Maret 2010 adalah 2,19 hari naik 0,15 poin dibanding keadaan Februari 2010.


Saturday, May 1, 2010

Cowboys in Paradise

Publikasi dan kontroversi film Cowboys in Paradise yang dibuat oleh sutradara Amit Virmani masih belum berakhir. Film dokumenter ini memunculkan perspektif umum mengenai kepariwisataan Indonesia. Bahwa pariwisata berefek negatif.

Amit, yang bersekolah film di Amerika Serikat dan sekarang sudah 14 tahun tinggal di Singapore mengaku bahwa awal pembuatan film ini karena adanya pengakuan dari anak-anak berumur 12 tahunan yang menjadi 'pacar' wisatawan wanita asal Jepang. Walaupun demikian, Amit tetap tidak mengakui bahwa film ini mengenai gigolo di Bali. Pernyataannya di twichfilm.net," a lot of people scoff at the need to distinguish between Cowboys and gigolos, but I see the distinction. It's a very fine line, but it's there. Yes, the Cowboys are the most visible face of Bali's male sex trade, but they're not sex workers. How's that for a blurry line!

Monday, April 26, 2010

Red Alert Pariwisata Bandung!


 

Kita semuanya mengerti bahwa aktivitas pariwisata bukanlah aktivitas parsial. Dari satu kegiatan ke kegiatan yang lainnya terkoneksi, terintegrasi sehingga memunculkan sebuah pengalaman berwisata yang utuh dan maksimal. Jadi, kita tidak bida mengklaim bahwa wisatawan yang berkunjung ke Bandung hanya mempunyai tujuan untuk shopping saja, atau kuliner saja. Kepariwisataan itu adalah bundling of products, yang tangible dan intangible, dari aksesibilitas sampai dengan atraksi.

Perwujudan dari kondisi terkini di Bandung, ketika pemkot berusaha untuk menaikkan pajak hiburan di sektor tertentu menjadi 75% (dari 30%), mengindikasikan bahwa pemkot sedang menarik ulur industri ini. Pendapatan dari sektor hiburan yang hanya 4,1 milyar per tahun dirasa tidak cukup melihat kondisi empiris meluapnya wisatawan setiap akhir minggu. Sejujurnya, untuk industri sebesar ini, 4,1 milyar bukanlah angka yang pas. Seharusnya bisa lebih.

Monday, April 19, 2010

Saatnya Pariwisata Kreatif



 

PARIWISATA dunia menunjukkan tingkat "sustainability" yang luar biasa. Keterpurukan ekonomi global menurunkan delapan persen wisatawan bepergian pada kuartal pertama 2009. Akan tetapi, sejak tahun 2007, turis internasional sudah mencapai "tipping point", meminjam istilah Malcolm Gladwell, dengan jumlah satu miliar. Ini berarti 20 persen penduduk planet ini sudah pernah bepergian keluar negeri setiap tahunnya.

Sebagai satu indikator ekonomi, kegiatan pariwisata selalu dapat dipandang dari dua sisi. Pertama, proses munculnya permintaan (demand) sebagai akibat dari kenaikan ekonomi daerah asal. Kedua, indikasi supply, merepresentasikan keunikan atraksi yang berujung pada efek domino ekonomi lokal. Keunikan atraksi ini dapat berupa banyak hal. Dalam konteks pariwisata kreatif, segala daya imajinasi yang dapat diinterpretasikan layak dijadikan atraksi. Jurnal Pariwisata Anatolia bahkan menegaskan bahwa setiap sudut kota merupakan creative spaces yang memungkinkan untuk dijadikan magnet baru sehingga mendatangkan wisatawan.

2010 - Saatnya Take Off

Pariwisata adalah salah satu sektor ekonomi global terbesar dan kontributor signifikan bagi perekonomian beberapa daerah dan daerah di sekeliling dunia. Dalam periode tahun 2008, tercatat sebesar 922 juta kunjungan wisatawan internasional dengan penerimaan devisa dari kunjungan sebesar US$ 944 miliar. Hal tersebut berarti industri pariwisata dan perjalanan wisatawan secara global menyumbangkan 9,6% dari PDB secara global dan 7,9% terhadap penyerapan tenaga kerja secara luas.

Tahun 2009 lalu mungkin menjadi tahun yang sulit bagi dunia industri pariwisata secara global. Krisis ekonomi global telah mempengaruhi kegiatan pariwisata, sehingga UNWTO memproyeksikan pertumbuhan kunjungan wisatawan akan menurun. Imbasnya industri pariwisata Indonesia juga mengalami penurunan dalam periode tersebut. Dalam Indeks Daya Saing Pariwisata dan Perjalanan yang dikeluarkan Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Swiss, Rabu 4 Maret 2009, Indonesia turun satu peringkat. Pada tahun 2008 Indonesia menempati posisi 80 dari 130 negara, namun tahun ini turun ke posisi 81 dari 133 negara.

Indikator Semu Pariwisata Bandung



Pada saat krisis ekonomi melanda dunia, alur wisatawan domestik ke Kota Bandung tidak berhenti. Seolah tiada saingan, Kota Bandung masih menjadi daya tarik utama bagi wisatawan lokal. Keadaan ini memunculkan polemik karena Pemerintah Kota Bandung tidak juga berbenah di infrastruktur penunjang kepariwisataan. Jalanan yang macet, lahan parkir yang terpakai, sampai dengan pedagang kaki lima menjadi santapan setiap akhir minggu.

Kondisi ini tidak menyurutkan semangat wisatawan untuk datang. Pemkot juga tidak berhenti berusaha menarik pendapatan asli daerah dari aktivitas pariwisata yang terjadi. Izin penanaman modal domestik untuk investasi hotel, restoran, biro perjalanan wisata, sampai dengan ritel mengalir bagaikan air.

Pariwisata Indonesia Q2


Masuk ke kuartal kedua, pariwisata Indonesia akan segera take off. Semua indikator ekonomi dunia menunjukkan gejala positif. Generating countries sudah mulai recovery. Ini yang saya sebut akan muncul aktivitas New Wave Tourism. Dimotori oleh negara-negara yang tumbuh negatif (wisman ke indonesia nya, seperti South Korea, Japan, Singapore, Germany, England, India) pada masa setahun lalu, kuartal kedua ini akan menjadi basis penentu apakah Indonesia akan tetap tumbuh angka wismannya atau tidak.

Survival of the Fittest nya Herbert Spencer menggambarkan ini dengan sangat jelas. Bahwa kata 'fit' disini bukan berarti yang secara fisik lebih kuat atau tangguh, tetapi lebih kepada kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkungannya. Tourist yang 'fit' terhadap krisis kemarin dan survive akan segera melancong ke luar negeri. Penggeraknya? (1) baby boomers - di USA hampir 8000 orang pensiun setiap hari, di Jepang lebih dari 8500 orang pensiun setiap hari, (2) saya menyebutnya sebagai 'frequent tourist people' yang kemarin terlalu sibuk mengurusi krisis dan tidak memikirkan untuk vakasi selama krisis, dan (3) saya menyebutnya sebagai 'smart people' yang menahan pengeluaran selama 2 tahun krisis. Ketiganya akan bergerak intraregion di pertengahan tahun 2010 sampai dengan mendekati kuartal akhir nanti.


Sunday, April 18, 2010

Wisatawan Inggris Berani Menyisihkan Untuk Konservasi


Data hasil survey yang dilakukan oleh UNWTO pada tahun 2009 menunjukan bahwa sebagian besar wisatawan asal Inggris berani menyisihkan 7-20 poundsterling untuk biaya konservasi di negara yang dikunjunginya. Indonesia tercatat mampu menyerap 158 ribu kunjungan wisatawan asal ini dengan sebaran di daerah wisata primer seperti Bali dan Jakarta serta wilayah tersier seperti Manado, Nias, NTB, NTT, dan Nias.

 Itu berarti Indonesia berpeluang untuk mendapatkan biaya konservasi minimal 3.160.000 poundsterling tiap tahunnya yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan destinasi tersier yang merupakan destinasi ekowisata. Pertanyaan : berani gitu nagihnya?